Penyusunan daftar pustaka kerap kali dianggap sebagai tahap akhir yang sederhana. Padahal, ketelitian dalam format titik, koma, hingga penyertaan URL sangat menentukan kredibilitas sebuah karya tulis.
Di tengah berlakunya berbagai standar, tidak sedikit penulis yang menghadapi kesulitan dalam menjaga konsistensi format pembuatan daftar pustaka. Namun, tidak perlu khawatir. Artikel ini akan menyajikan cara membuat daftar pustaka yang benar. Mari simak sampai akhir.
Apa Itu Daftar Pustaka?
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), daftar pustaka merupakan daftar yang memuat informasi sumber (judul, pengarang, penerus, dan lainnya), diletakkan pada bagian akhir tulisan, serta disusun menurut abjad.
Lebih dari formalitas, daftar pustaka dapat membantu menghindari risiko plagiarisme, menguatkan argumen, bentuk apresiasi pada penulis yang dirujuk, serta mempermudah pembaca meninjau kembali sumber referensi.
Dalam pedoman format referensi, misalnya APA, ditekankan bahwa apa yang dikutip sebaiknya juga muncul di daftar pustaka. Tujuannya adalah agar pembaca dapat melacak sumber dengan akurat.
Unsur yang Harus Ada di Daftar Pustaka
Terdapat empat unsur penting yang wajib ada di dalam daftar pustaka, yaitu penulis/pengarang, judul, penerbit, dan tahun terbit. Keempat unsur tersebut banyak dijadikan sebagai rujukan dalam berbagai pedoman penulisan praktis daftar pustaka.
Pada artikel jurnal, unsur yang muncul biasanya penulis, tahun, judul artikel, nama jurnal, volume/issue, halaman, serta DOI/URL (jika ada).
Untuk website, unsur-unsurnya terdiri dari penulis atau organisasi, tanggal terbit (jika ada), judul halaman, nama situs (jika berbeda), URL, dan terkadang ditambahkan tanggal akses apabila kontennya mudah berubah.
Sementara itu, terdapat “aturan halaman” yang sering kali digunakan lintas gaya. Hal ini berkaitan dengan kerapian format, yaitu:
- List diletakkan di akhir.
- Disusun secara alfabetis (pada gaya tertentu, seperti APA/Chicago author-date/MLA).
- Menggunakan hanging indent.
- Spasi konsisten.
Misalnya, pada pedoman APA versi Purdue OWL, judul “References” di atas, spasi ganda, urut abjad, serta menulis nama penulis terbalik (nama belakang terlebih dahulu).
Sebagai catatan, sebaiknya tidak menuliskan gelar, seperti Dr., S.Pd., M.Si. di daftar pustaka, kecuali pedoman yang digunakan memang meminta. Beberapa pedoman pun menekankan bahwa gelar akademik tidak perlu dicantumkan.
Baca juga: Cara Membuat CV Lamaran Kerja Tulis Tangan di Buku Folio Bergaris
Cara Membuat Daftar Pustaka dari Buku, Jurnal, Website, dan Video
Dalam hal ini, bisa digunakan pendekatan “langkah kerja”. Namun, bukan berarti untuk menggantikan pedoman kampus. Hanya saja, agar kamu memiliki sistem yang dapat dipakai kapan saja. Berikut ini panduannya.
1. Tentukan Gaya Sitasi
Ada beberapa yang bisa dipertimbangkan, seperti APA, MLA, IEEE, atau Chicago. Tetapi, jangan dicampur karena Chicago sendiri mempunyai dua sistem besar, yaitu notes bibliography dan author date. Oleh karena itu, pastikan mana yang diminta oleh organisasi atau kampus.
2. Catat Metadata Lengkap
Ketika membaca sumber atau referensi, sebaiknya catat metadata secara lengkap sejak awal, mulai dari penulis (atau organisasi), tahun, judul, penerbit/nama jurnal, volume-issue, halaman, DOI/URL.
3. Tulis Sitasi di Badan Teks
Jangan lupa untuk menulis sitasi di badan teks terlebih dahulu. Kemudian, sinkronkan daftar pustaka. Ingat bahwa sumber yang dikutip di dalam teks juga harus muncul pada daftar pustaka dan sebaliknya.
4. Perhatikan Format Daftar Pustaka
Langkah yang bisa dilakukan, yaitu menyusun alfabetis (untuk gaya tertentu), merapikan tanda baca, dan menyamakan kapitalisasi sesuai gaya.
Pada APA 7, contoh pedoman populer di Indonesia adalah tidak lagi mencantumkan penyebutan kota penerbit di referensi buku. Alhasil, format buku menjadi lebih ringkas.
5. Mengurus Detail “Digital” dengan Benar
Pada sumber online, pedoman APA 7 di Purdue OWL menekankan bahwa “Retrieved from” kini tidak lagi diwajibkan sebelum DOI/URL dan tanggal akses, terutama digunakan untuk sumber yang mudah berubah atau tidak diarsipkan.
Agar pemahaman terkait cara menulis daftar pustaka dari jurnal, buku, situs, video, dan lain-lain semakin jelas, perhatikan beberapa contoh berikut.
- Buku (1 Penulis): NamaBelakang, A. A. (2022). Judul buku: Subjudul kalau ada. Nama Penerbit.
- Buku (Editor, Tanpa Penulis): NamaBelakang, A. A., & NamaBelakang, B. B. (Eds.). (2021). Judul buku. Nama Penerbit.
- Artikel Jurnal (dengan DOI jika ada): NamaBelakang, A. A., & NamaBelakang, B. B. (2021). Judul artikel. Nama Jurnal, 12(3), 45–60. https://doi.org/xxxxx.
- Halaman Web (Ada Penulis): NamaBelakang, A. A. (2025, 3 Oktober). Judul halaman. Nama Situs. https://contoh.url.
- Halaman Web (Penulis Organisasi): Nama Organisasi. (2025, 3 Oktober). Judul halaman. https://contoh.url.
- Halaman Web (Tanpa Penulis, Konten Mudah Berubah): Judul halaman. (2025, 3 Oktober). Nama Situs. Retrieved 4 Maret 2026, from https://contoh.url.
- Video YouTube: Nama Akun. (2024, 27 September). Judul video [Video]. YouTube. https://contoh.url.
Gaya penulisan daftar pustaka bisa berbeda-beda. Misalnya, APA 7 yang menuliskan nama penulis sampai 20 orang sebelum diberlakukannya aturan pemendekan. Selain itu, ada gaya IEEE yang menggunakan sistem bernomor.
Jadi, kutipan pada teks memakai angka dan daftar pustaka di akhir yang bernomor sesuai kemunculan. Maka dari itu, pahami aturan gaya yang digunakan demi menghindari kesalahan.
Baca juga: Cara Membuat Daftar Isi Makalah Otomatis di Word dengan Rapi
Template Daftar Pustaka
Terdapat beberapa template daftar pustaka yang dapat langsung diisi. Cukup ganti di bagian dalam tanda kurung siku. Berikut ini template-nya.
- Template Buku: [NamaBelakang], [Inisial]. ([Tahun]). [Judul buku: Subjudul]. [Penerbit]. [DOI jika ada].
- Template Buku (Editor): [NamaBelakang], [Inisial]. (Ed.). ([Tahun]). [Judul buku]. [Penerbit].
- Template Jurnal: [NamaBelakang], [Inisial]. ([Tahun]). [Judul artikel]. [Nama Jurnal], [Volume]([Issue]), [Halaman]. [DOI/URL jika ada]
- Template Website: [Penulis/Organisasi]. ([Tahun, Bulan Tanggal]). [Judul halaman]. [Nama Situs jika beda]. [URL]. (Catatan: beberapa gaya meminta tanggal akses. Jadi, ikutilah pedoman dari diberlakukan oleh institusimu).
- Template Video: [Nama Akun/Channel]. ([Tahun, Bulan Tanggal]). [Judul video] [Video]. [Platform]. [URL].
Apabila ingin versi otomatis, terdapat beberapa opsi yang relatif hemat waktu dan aman untuk dicoba, yaitu sebagai berikut.
- Google Docs memiliki fitur “Kutipan” untuk membuat kutipan di dalam teks dan bibliografi pada MLA (edisi 8), APA (edisi 7), serta Chicago Author-Date (edisi 17). Ada elemen tertentu yang digenerasi alat sehingga dapat tampil dalam Bahasa Inggris meskipun dokumennya berbahasa lain.
- Aplikasi manajemen referensi, seperti Zotero dan Mendeley (Mendeley Cite) yang dapat memasukkan sitasi maupun bibliografi langsung dari Google Docs/Word. Bibliografi pun bisa turut update otomatis ketika menambahkan kutipan.
Selain itu, kamu bisa menerapkan cara membuat daftar pustaka di Word melalui menu “References”. Tentukan gaya sesuai kebutuhan dan tambahkan sumber. Lalu, pilih “Bibliography” untuk membuat daftar pustaka secara otomatis dan melakukan pembaruan.
Itulah penjelasan mengenai cara membuat daftar pustaka yang benar, baik dari jurnal, buku, situs web, hingga video. Melalui informasi di atas, kamu tidak perlu lagi merasa bingung dan bisa menerapkan langkah-langkahnya secara konsisten.
Apabila kamu termasuk tipe yang lebih nyaman belajar melalui buku panduan, maka tidak perlu khawatir karena bisa mendapatkan kebutuhan tersebut dengan membelinya di Shopee. Cukup eksplorasi produk yang dicari dan masukkan ke keranjang.
Untuk belanja yang lebih hemat, manfaatkan berbagai penawaran promo, berupa diskon sampai voucher gratis ongkir. Setelah itu, pilih metode pembayaran sesuai preferensi, mulai dari ShopeePay, transfer bank, atau COD.
Yuk, jangan ragu cek setiap item untuk membuka listing dan dapatkan barang incaranmu sekarang di Shopee!
Baca juga: Contoh Cover Letter yang Menarik dan Cara Membuatnya
