mall inline badge
[Mizan] Lelaki Sunni Di Kota Syi‘Ah: Kisah Perjalanan Ziarah Arbain dari Najaf hingga Karbala
Jaminan Shopee Mall
7 Hr Pengembalian
Untuk menjamin kepuasanmu, Shopee Mall memperpanjang waktu pengembalian barang (7 hari setelah barang diterima). Kamu dapat melakukan pengembalian secara praktis dan gratis* (melalui J&T Express atau Indopaket (Indomaret) dengan resi yang diberikan oleh Shopee). Seluruh dana akan dikembalikan kepadamu jika pengajuan memenuhi Syarat & Ketentuan (pengembalian karena produk tidak original, rusak, cacat, atau salah).
100% Ori
Shopee menjamin bahwa produk yang terdaftar di Shopee Mall adalah 100% original. Jika produk dari Shopee Mall yang kamu terima bukan produk original, Shopee akan mengembalikan dua kali dari jumlah harga produk yang kamu bayarkan untuk produk tersebut.
Gratis Ongkir
Nikmati Gratis Ongkir spesial pada semua produk Shopee Mall dengan min. belanja lebih rendah.
Lanjutkan Belanja
7 Hr Pengembalian7 Hr Pengembalian
100% Ori100% Ori
Gratis OngkirGratis Ongkir
Voucher Toko
COD (Bayar di Tempat)
Gratis Ongkir
Ongkos Kirim:
Rp0
Spesifikasi
Merek,Impor/Lokal
Deskripsi

Buku Original Mizan Grup

Spesifikasi Produk:

Format: 21 x 21 cm

Jumlah halaman: 192

Jenis Kertas Isi: HVS 80 gr

Jenis Kertas Sampul: AC 230 gr

Sinopsis

“I just wanna cry,” kata Iqbal Aji Daryono yang tak kuasa menahan haru menyaksikan jutaan orang berbondong-bondong, berjalan dengan tertib dan damai untuk menjadi tamu keluarga Nabi Muhammad Saw. dalam perjalanan dari Najaf ke Karbala, Irak.

Selama berabad-abad, jutaan masyarakat Muslim Syi‘ah dari seluruh dunia rutin menggelar Ziarah Arbain. Ini adalah peringatan tahunan hari ke-40 atas syahidnya Sayidina Husain. Di sisi lain, dalam beberapa dekade terakhir, Syi‘ah sering kali mendapat tuduhan-tuduhan miring. Mulai dari kawin kontrak, menabikan Sayidina Ali bin Abi Thalib, hingga dicap sesat dan telah keluar dari Islam.

Iqbal yang dibesarkan di tengah lingkungan Sunni Muhammadiyah sudah sejak sembilan tahun menimbang-nimbang untuk berangkat ke Karbala. Dia ingin melihat sendiri bagaimana masyarakat Muslim Syi‘ah menjalankan ritualnya. Seorang lelaki Sunni di tengah jutaan pemeluk Syi‘ah!

Kisah epik perjalanan Iqbal ke Karbala dituangkan ke dalam buku ini. Apa yang dituliskannya dapat menjawab berbagai pertanyaan tentang Syi‘ah yang sering diajukan oleh masyarakat Muslim Indonesia yang mayoritas bermazhab Sunni.

Buku ini juga dilengkapi foto-foto, sehingga pembaca dapat menikmati panorama perjalanan pemeluk Syi‘ah melaksanakan ritual tahunan ini dengan lebih hidup—di tengah kerenyahan tulisan khas Iqbal yang santai, mengalir, sekaligus menghibur.

“Ini perjalanan yang ‘ghost busting’, membongkar ‘hantu’ dan prasangka.

Iqbal seorang Sunni/Muhammadiyah dan berani melakukan perjalanan

ke tanah ‘suci’ Syi‘ah. Ini tindakan menerobos batas.”

—Ulil Abshar Abdalla, cendekiawan Nahdlatul Ulama

“Perbedaan hanya akan menyebabkan mudarat apabila dikotori prasangka-prasangka negatif. Iqbal, seorang Sunni warga Muhammadiyah, berangkat ke Karbala dengan niat yang baik dan kepala yang jernih demi mewujudkan kesalingpahaman

di antara sesama saudara seagama Islam.”

—Haidar Bagir, penulis buku Inilah Mazhabku

“Iqbal penulis yang peka terhadap humor, ironi, dan anekdot kemanusiaan.

Lewat catatan perjalanannya yang ringan, dia mengajak kaum Sunni untuk mengenal saudara Syi‘ah mereka secara ‘up, close, and personal’; menepis praduga dan stereotype yang keliru tanpa harus menyetujuinya; serta menerima keragaman sebagai rahmat.”

—Farid Gaban, jurnalis senior, penulis

“Iqbal menelusuri jembatan panjang persatuan kaum Muslim, bahkan persaudaraan sesama umat manusia: saling membantu, berkhidmat, dan memberi hormat.”

—Miftah Fauzi Rakhmat, penulis buku The Prophetic Wisdom:

Kisah-Kisah Kearifan Para Nabi

“Iqbal berusaha membongkar kesalahpahaman dan menghapus prasangka dan stigma buruk tentang Syi‘ah yang ada di sebagian masyarakat Indonesia. Ini langkah yang berani.”

—Prof. Ahmad Najib Burhani, cendekiawan Muhammadiyah

“Dengan bahasa yang ciamik, kita akan dibawa ke sebuah pengembaraan di mana

tak ada lagi kata ‘liyan’, penoda agama, atau aliran sesat. Sebaliknya, kita akan disuguhi kisah-kisah perjalanan yang sarat akan nilai-nilai spiritualitas yang terekam

dengan jenaka dan apa adanya.”

—Maria Fauzi, penulis buku Muslimah Bukan Agen Moral:

Menggali Ragam Ekspresi Kesalehan Perempuan

*Note: Untuk Klaim kekurangan/kerusakan wajib disertai video unboxing paket. Tanpa menyertakan video unboxing, mohon maaf klaim tidak dapat diterima. Terima kasih

Chat Sekarang
Masukkan Keranjang
Beli Sekarang