Pernah dengar orang bilang, “aku cuma butuh validasi,” lalu kamu jadi bertanya-tanya apa maksudnya? Wajar kok kalau bingung. Soalnya, kata validasi belakangan ini banyak dipakai di hampir semua konteks, mulai dari yang formal sampai yang sangat personal.
Lantas, apa itu validasi? Di artikel ini, kamu akan mempelajari arti kata validasi, contoh penggunaan, dan konteksnya di bahasa gaul. Yuk, pahami lebih lanjut!
Apa Itu Validasi?
Sederhananya, validasi adalah proses mengakui, mengesahkan, atau memastikan sesuatu itu benar dan bisa diterima. Dalam percakapan sehari-hari, maknanya sering bergeser menjadi kebutuhan untuk merasa dipahami, dihargai, atau diakui oleh orang lain.
Itulah kenapa kata ini terasa dekat dengan kehidupan sekarang, baik di sekolah, tempat kerja, hubungan pribadi, sampai di media sosial sekalipun. Namun, dalam praktiknya, kata ini memiliki dua makna, lho. Berikut penjelasannya:
- Formal: Validasi berkaitan dengan data, sistem, atau aturan. Di lingkup kerja, validasi data berarti mengecek apakah data sudah akurat.
- Emosional: Validasi adalah istilah yang erat dengan perasaan dan hubungan manusia. Contohnya, mengakui apa yang dirasakan oleh pihak lain.
Jadi, saat orang bertanya “arti dari validasi itu apa”, jawabannya tidak bisa satu arti saja, karena konteks penggunaannya juga sangat menentukan.
Kenapa Kata Validasi Sering Dipakai di Media Sosial?
Kalau kamu aktif di media sosial, pasti sering melihat kata ini muncul di berbagai konteks. Ada yang bilang butuh validasi, ada juga yang merasa sudah cukup tanpa validasi dari orang lain.
Fenomena ini terjadi karena media sosial membuat orang lebih sering berbagi pengalaman, opini, dan perasaan.
Ketika seseorang mendapat respons positif, seperti komentar, likes, atau dukungan, itu sering dianggap sebagai bentuk validasi sosial. Rasanya seperti “aku dilihat” dan “aku dipahami”.
Karena itulah, kata validasi akhirnya jadi bagian dari bahasa sehari-hari, bukan cuma istilah formal lagi.
Baca juga: 10 Rekomendasi Buku Self Improvement Terbaik untuk Pengembangan Diri
Apa Saja Jenis Validasi?
Walaupun terlihat sederhana, validasi sebenarnya terdiri atas beberapa bentuk yang sering kita temui tanpa sadar.
Dalam hubungan sehari-hari, yang paling terasa adalah validasi emosi, yaitu ketika seseorang mengakui perasaan orang lain tanpa meremehkannya. Misalnya, saat kamu bilang capek dan ada yang merespons dengan empati, itu sudah termasuk validasi.
Selain itu, ada juga validasi diri, yaitu kemampuan untuk menerima perasaan sendiri tanpa harus selalu menunggu pengakuan dari orang lain. Di sisi lain, validasi sosial berkaitan dengan bagaimana lingkungan sosial memberi respons terhadap diri kita.
Berbeda lagi dengan validasi data, yang lebih sering dipakai di dunia kerja atau akademik untuk memastikan bahwa informasi yang digunakan itu akurat dan bisa dipercaya.
Kenapa Orang Membutuhkan Validasi?
Pada dasarnya, manusia memang ingin merasa didengar dan dipahami. Saat seseorang mendapat validasi, ada rasa aman yang muncul karena ia merasa tidak sendirian.
Dalam hubungan, validasi juga bisa membuat komunikasi terasa lebih hangat dan jujur. Namun, di samping banyaknya efek positif, ada satu istilah yang juga banyak digunakan, yaitu haus validasi.
Berbeda dari kebanyakan bentuk validasi, istilah haus validasi sendiri mengacu pada kondisi ketika seseorang terlalu bergantung pada validasi dari orang lain.
Ciri-ciri orang haus validasi biasanya adalah seseorang yang mudah goyah atau bahkan meluapkan amarah ketika tidak mendapat respons yang mereka harapkan.
Bagaimana Cara Memberi Validasi yang Sehat?
Cara memberi validasi sebenarnya tidak rumit. Sering kali, hal paling sederhana justru yang paling berarti.
Salah satu cara memberi validasi yang sehat adalah dengan mendengarkan keluhan atau curhatan lawan bicara dengan sungguh-sungguh, mencoba memahami sudut pandang mereka, dan merespons tanpa menghakimi agar lawan bicara merasa dihargai.
Bahkan, terkadang kalimat sederhana seperti “aku paham kamu kecewa” atau “wajar kalau kamu merasa begitu” juga bisa terasa jauh lebih menenangkan dibanding nasihat panjang lebar yang terkesan menggurui.
Bagaimana Cara Memvalidasi Diri Sendiri?
Selain dari orang lain, validasi juga perlu datang dari diri sendiri, supaya tidak selalu bergantung pada penilaian orang-orang di sekitar.
Memvalidasi diri sendiri bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti berhenti sejenak dan mengakui apa yang sedang dirasakan. Dengan cara ini, kamu bisa membangun kestabilan emosi yang lebih kuat dari dalam.
Bagaimana Cara Menggunakan Kata Validasi?
Dalam penggunaan sehari-hari, kata validasi biasanya dipakai sebagai bentuk pengakuan atau pengesahan. Sementara itu, kata “memvalidasi” digunakan ketika kita berbicara tentang tindakan mengakui atau menguji sesuatu.
Di obrolan santai, kata ini lebih sering dipakai untuk konteks perasaan. Tapi di dunia kerja atau akademik, maknanya lebih dekat dengan proses memastikan sesuatu itu benar dan akurat.
Nah, itu dia penjelasan lengkap tentang arti kata validasi. Memahami konsep validasi bukan cuma membantu kita lebih peka dalam berkomunikasi, tapi juga membuat kita lebih sadar akan kebutuhan diri sendiri.
Menariknya, kebutuhan kecil seperti ini sering juga berkaitan dengan hal-hal sederhana di keseharian, mulai dari journaling untuk mengekspresikan emosi, membaca buku self-improvement, sampai menyiapkan ruang kerja yang lebih nyaman agar pikiran lebih tenang.
Nah, kalau kamu lagi ingin mulai dari hal-hal kecil seperti itu, berbagai perlengkapan pendukungnya bisa dengan mudah kamu temukan di Shopee.
Di Shopee, kamu bisa belanja dengan lebih hemat berkat program gratis ongkir dan banyak voucher belanja yang bisa kamu pakai. Pembayarannya pun mudah, karena tersedia banyak metode pembayaran, mulai dari COD hingga SPayLater yang praktis. Jadi, yuk, belanja di Shopee sekarang!
Baca juga: 7 Cara Mencintai Diri Sendiri dengan Hal Sederhana, Wajib Dicoba!
