X

EMPAT #1 – Berita Buruk

“Bagaimana jika hari terakhir hidupmu adalah sekaligus hari pernikahanmu?”

Sinopsis:

Angka 4 seperti selalu menemani hidupku. Aku dan Dimas telah berpacaran selama 4 tahun. Dalam 4 bulan lagi, pernikahan kami akan digelar. Namun, kabar buruk menghampiriku. Hidupku akan berakhir dalam 4 bulan akibat kanker otak.

Aku yang putus asa, memutuskan melakukan segala cara untuk membuat Dimas membenciku hingga membatalkan pernikahan kami. Kenapa? Aku tidak ingin ia merasa terpuruk dengan kepergianku. Sounds cheesy? Iya, tapi aku bersungguh-sungguh.

Akankah rencanaku berhasil?

***

“Pikirkan nasihat saya baik-baik, Deb.”

Kata-kata itulah yang terakhir disampaikan oleh Dokter Bram sebelum aku menutup pintu ruang prakteknya. Hasil check up hari ini benar-benar membuatku memikirkan masa depanku. Apa yang harus kukatakan pada keluargaku? Apa yang harus kukatakan pada teman-temanku? Dan terlebih lagi, apa yang harus kukatakan pada dia, tunanganku.

Kurang lebih sudah tiga minggu ini aku merasakan sakit yang luar biasa pada kepalaku. Terkadang sakit ini sampai membuatku jatuh pingsan. Akibat rutinitas yang padat, baru seminggu kemarin aku sempatkan memeriksakan diri ke dokter. Sayang, aku seharusnya tidak melakukan itu. Pergi ke dokter saat itu, adalah hal yang paling aku sesali seumur hidup.

Setelah menjalani beragam tes check up di rumah sakit, dokter memutuskan bahwa aku terkena kanker otak stadium 4. Ya, penyakit ganas yang biasanya banyak kudengar di drama TV. Namun, kali ini benar-benar terjadi pada diriku. Seolah-olah kabar itu tidak cukup buruk, Dokter Bram menambahkan bahwa sisa hidupku hanya tinggal 4 bulan lagi.

Bukan setahun, bukan juga setengah tahun, namun 4 bulan lagi. Apa yang bisa kulakukan dalam 4 bulan? Pekerjaanku belumlah stabil, aku masih belum bisa membelikan rumah untuk orang tuaku, dan—yang selama 6 bulan belakangan ini menjadi prioritasku—pernikahanku dengan Dimas, akan berlangsung dalam 4 bulan lagi.

Malang sekali nasibku. Apa aku akan meninggalkan dunia ini dalam kondisi penuh kegagalan?

***

Hari yang baru tiba, namun tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak bisa menyambut datangnya hari baru dengan sukacita. Bangun tidur selalu ku habiskan dengan berdiam diri di atas tempat tidur, memikirkan bagaimana sebaiknya aku memberitahu keadaanku kepada yang lain. Hingga saat ini hanya kedua orang tuaku yang tahu akan penyakitku. Aku memutuskan menyembunyikannya dari yang lain sampai waktu yang tepat.

Setelah kurang lebih 20 menit merenungkan nasib, aku bergegas mempersiapkan diri untuk menemui Dimas, tunanganku. Hari ini kami berjanji akan makan siang bersama. Sebenarnya aku sedang tidak ingin menemuinya. Suasana hatiku benar-benar sedang buruk. Namun, kami sudah memesan tempat di restoran ternama ini sejak jauh hari.

Restoran di Jalan Progo, Bandung ini memang sangat cocok untuk pasangan. Interiornya terkesan mewah dan klasik. Akan lebih romantis lagi jika makan malam, sih, namun belakangan ini Dimas sering lembur di kantor.

Sesampainya di restoran, terlihat Dimas sudah menungguku di meja. Dimas memberikan senyum manisnya ketika melihatku. “Agak macet ya, Deb?” kata Dimas sambil memberikan minumnya untukku.

“Lumayan, Dim. Maaf lama, ya? Kamu udah pesen?”

“Belum, pesen sekarang, yuk.” kata Dimas sambil memanggil pelayan di depan kami.

Setelah memesan makanan, Dimas diam memandangku sambil tersenyum-senyum. Dipandang begitu, aku langsung saja salting. Iya, empat tahun pacaran, Dimas masih mampu membuatku salting.

“Kenapa, sih?” jawabku sedikit kesal karena malu ketahuan salting.

“Salting, ya? Lucu banget, sih. Aku kayak udah lama nggak lihat kamu.”

Memang sudah hampir dua minggu kami jarang bertemu. Kami disibukkan dengan pekerjaan masing-masing ditambah persiapan pernikahan. Mengingat soal pernikahan membuatku tiba-tiba merasa sedih. Sepertinya persiapan pernikahan ini akan sia-sia.

“Gimana persiapan pernikahan, Deb? Kayaknya udah oke semua, ya. Tinggal tunggu baju pernikahan kamu jadi sama test food aja.” kata Dimas yang mulai membuka topik soal pernikahan.

“Iya, kita harus pilih makanan yang enak, Dim. Yang paling diingat orang pas kondangan tuh makanannya. Aku maunya tamu kita pergi dengan perut kenyang dan puas!” kataku sebisa mungkin mencoba untuk terlihat antusias.

“Santai aja, Deb. Masih banyak waktu. Kurang lebih 4 bulan lagi ‘kan? Nanti kita cari sama-sama.” kata Dimas menenangkanku.

Makanan pun tiba, tak menunggu waktu lama kami langsung menyantapnya. Pembicaraan kami pun tak terhenti. Dimas benar-benar memikirkan pernikahan kami nanti.

“Aku nggak nyangka, bentar lagi kita bakal jadi suami-istri. Padahal dulu aku nggak suka-suka banget sama kamu, lho.” kata Dimas sambil bercanda.

“Emangnya kamu pikir aku suka banget gitu sama kamu?” balasku tak mau kalah.

“Hahaha. Pokoknya aku nggak sabar sama kehidupan kita nanti. Rumah kita tinggal finishing di dalam aja, desainnya juga udah cocok sama yang kamu mau. Terus, aku mau kita punya anak minimal 3, deh. Satu cewek, dua cowok. Biar ada tiga cowok yang ngelindungin anak cewek kita, termasuk aku. Terus, buat bulan madu juga udah oke ‘kan di Pulau Moyo. Maaf ya, belum bisa jauh-jauh. Jadwal aku masih padat, sih. Terus…” perlahan-lahan ucapan Dimas tenggelam dengan pikiranku sendiri. Seandainya Dimas tahu, kalau itu semua nggak akan terjadi.

Aku tahu Dimas sangat mencintaiku. Dia benar-benar laki-laki terbaik yang pernah aku temui. Dia lebih sering mementingkan kebutuhanku dibanding dirinya. Sepertinya aku lebih banyak merasakan kebahagiaan dibanding kesedihan.

Laki-laki sebaik ini seharusnya bisa mendapatkan wanita lain yang jauh lebih baik. Tapi dia sudah terperangkap bersamaku selama 4 tahun belakangan. Aku tidak ingin ia terperangkap dalam kesedihan karena kepergianku untuk selamanya nanti.

Dan tiba-tiba terlintas ide bodoh di benakku…

Mungkin satu-satunya cara adalah dengan membuat Dimas membenciku hingga menghapus aku dari hatinya. Ya, dengan begitu Dimas tidak perlu merasakan sakit. Aku putuskan itu yang akan aku lakukan. Aku akan membuat Dimas membenciku hingga ia membatalkan pernikahan kami dalam 4 bulan ke depan.

***

To be continued

Baca cerita selanjutnya, EMPAT #2 – Rencana Dimulai

 

AM