Teman Tapi Sayang #1 – Linda dan Adit

Sinopsis:

Linda dan Adit telah bersahabat sejak kecil. Mereka seperti tidak pernah terpisahkan. Meski lebih sering bertengkar seperti anak kecil, mereka sebenarnya sangat menyayangi satu sama lain. Tentu saja masih dalam batasan teman. Namun, ketika Adit menemukan tambatan hati, tanpa disangka Linda merasakan kecemburuan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Linda tidak rela ‘kehilangan’ sahabatnya karena wanita lain.

Apakah Linda memang hanya takut kehilangan sahabat terbaiknya ataukah sebenarnya ia diam-diam menyimpan rasa pada Adit?

***

“Linnn, buruan!” teriak Adit dari dalam mobilnya sambil terus mengklakson tanpa henti.

Duh, berisik banget sih, manusia satu ini. Kalau setiap hari dijemput dengan cara begini sama Adit yang ada aku malah dimusuhin sama semua tetangga, bahkan bisa sampai diusir kali. “Iyaa, bentar lagi, Dit. Nggak usah berisik, deh!” teriakku dari dalam kamar walaupun Adit pasti nggak akan mendengarnya.

Setelah susah payah memakai sepatu hak tinggi dan memastikan semua barang-barangku telah masuk ke dalam tas, aku segera berlari ke luar, mengunci pintu, dan masuk ke dalam mobil Adit yang telah menunggu sejak setengah jam yang lalu.

“Heran gue, cewek tuh ngapain aja, sih? Lama banget padahal cuma ke kantor doang. Ketemu sama orang yang sama juga ‘kan? Bukan cowok ganteng atau artis gitu, lho.” kata Adit sewot dan langsung menjalankan mobilnya menuju kantor kami di bilangan Sudirman, Jakarta.

“Yeee, Adit pagi-pagi kok udah sewot aja, sih? Senyum dong.” kataku sambil berlagak sok imut yang malah membuat Adit semakin jengkel. Melihatnya begitu aku pun jadi langsung tertawa. Membuat Adit kesal memang salah satu hal yang paling menyenangkan.

Aku dan Adit memang telah berteman sejak kecil. Kami selalu satu sekolah sejak bangku sekolah dasar hingga SMA. Hanya saat kuliah saja kami sempat berpisah. Tapi kami kembali dipertemukan saat bekerja di kantor yang sama. Rumah kami pun juga berdekatan. Bosan juga sih selalu ketemu dengan Adit setiap saat. Untung saja meski satu kantor, kami berada di divisi yang berbeda.

“Makanya mending lo cepetan cari cowok deh, Lin. Jadi gue nggak perlu nungguin lo setiap mau berangkat kerja.” kata Adit yang masih saja kesal.

“Mending lo duluan aja yang cari cewek, Dit. Kalau kayak gitu, gue akan dengan senang hati menjauh dari lo dan berangkat ke kantor naik taksi, deh.”

“Huh, lihat aja nanti, Lin.” Mendengar perkataanku membuat Adit langsung mencibir.

Sebenarnya aku berniat untuk meledek Adit saat memintanya mencari pasangan. Karena kalau sudah membicarakan soal cewek, Adit memang paling malas. Selama aku mengenal dia, Adit baru pernah berpacaran sebanyak tiga kali. Itu pun tidak ada yang berlangsung lama, hubungannya yang paling lama hanyalah selama setahun.

Entah mengapa sepertinya dia tidak terlalu tertarik untuk pacaran, menurutnya pacaran itu adalah hal yang merepotkan. Tapi tenang saja, bisa kupastikan Adit adalah lelaki yang normal. Mungkin memang ia belum menemukan seseorang yang dapat merebut hatinya. Maklum, Adit termasuk lelaki yang cukup pemilih.

Padahal kalau aku ingat-ingat lagi banyak juga wanita yang mendekatinya, lho. Fisik Adit memang cukup tampan dan ia juga ramah pada semua orang. Tapi memang ada bagusnya juga untukku, sih. Meski terkadang menyebalkan, Adit adalah salah satu teman terbaik yang selalu setia membantu dan menghiburku. Hampir semua momen penting dalam hidupku kuhabiskan bersamanya. Bahkan, sepertinya ia lebih memahami semua hal tentangku dibanding diriku sendiri.

Ocehan Adit yang tak ada hentinya itu membuatku tersadar dari lamunan. Tak terasa akhirnya kami sampai juga di kantor. Ketika di dalam lift, Adit sempat memerhatikan kakiku.

“Lin, ada sandal di meja lo ‘kan?” tanyanya.

“Ada, kenapa deh?”

“Kalau lagi duduk di meja jangan lupa ganti sandal lo. Pegel banget pakai sepatu tinggi kayak begitu.” jawab Adit yang masih dengan gaya khasnya yang cuek. Ini dia yang aku suka dari Adit. Meski sering berkata pedas kepadaku, dia sebenarnya sangat perhatian namun sering menutupinya.

Pintu lift pun terbuka, aku dan Adit berpisah dan langsung menuju ke lantai divisi masing-masing. Sesampainya di meja kantorku, aku langsung mengganti sepatu hak tinggiku dengan sandal yang ada di bawah meja, menuruti kata Adit. Setelah sudah siap untuk mulai bekerja, aku melihat tumpukan kertas yang ada di atas meja dan langsung membuatku menghembuskan nafas. Belakangan ini pekerjaanku memang lagi menumpuk banget, maklum sudah menjelang akhir tahun, banyak deadline laporan menanti. Duh, tetap harus semangat, Linda!

***

“Dit, lo emang beneran nggak mau cari pacar? Inget umur lo, dong.” tanyaku kepada Adit yang kini sedang makan mie ayam di depanku. Sepulang kantor, kami memilih makan malam dulu di suatu kedai makanan di pinggir jalan.

#Taiwan 台灣

“Lo ngapain sih bahas itu terus? Pengen banget gue punya pacar? Emang lo nggak sedih nanti gue tinggalin?” tanya Adit tanpa melihatku. Kalau sudah kelaparan dia memang cuma bisa fokus ke makanannya saja.

“Dih, sorry ya, lo nggak sepenting itu di hidup gue kok, Dit.” jawabku sambil bercanda. “Ya, gue penasaran aja. Belakangan ini lo sering main hp gitu, terus kemarin lo makan sama seseorang ‘kan? Lo nggak lagi deketin cewek?” tambahku yang masih penasaran sama jawaban Adit dan sebenarnya aku memang sedikit curiga dengan tingkahnya belakangan ini.

“Hmm… sebenarnya ada, sih. Anak kantor di divisi gue. Gue juga udah sempet jalan berdua juga sama dia.”

“…siapa?”

“Megan. Lo nggak akan kenal. Dia nggak pernah berhubungan sama divisi lo.” balas Adit yang kini telah menghabiskan mie ayamnya.

Tuh ‘kan, benar dugaanku. Mengetahui hal ini seketika aku pun merasa kesal dengannya. Kenapa dia nggak pernah menceritakan tentang hal ini sama aku. Nggak adil rasanya karena aku selalu menceritakan semua hal yang terjadi di hidupku kepadanya.

“Ih, kok lo nggak pernah cerita-cerita sama gue, Dit? Parah lo. Gue perlu tahu kali.” jawabku kesal sambil melempar bekas tisu ke badan Adit.

“Yaelah, ngapain juga. Belum tentu gue jadian sama dia. Nanti aja kalo udah resmi baru gue kenalin ke lo, Lin.”

“Hmm… udah sejauh apa usaha PDKT lo? Dia udah ngasih tanda-tanda suka juga?” tanyaku sambil menyenderkan kedua siku di meja. Bersiap mendengar penjelasan Adit lebih jelas.

“Iya, kayaknya dia suka juga sama gue. Kalau dia nggak suka nggak mungkin gue lanjutin lah, Lin. Bikin capek hati aja. Gue juga udah berencana mau nanya ke dia, nih.”

Wow, tidak pernah kusangka omongan seperti ini akan keluar dari mulut Adit. Seorang Adit yang biasanya selalu malas berurusan dengan cewek, yang hubungan terakhirnya itu sudah beberapa tahun lalu.

“Ih, tumben banget lo. Kemajuan banget, nih! Pokoknya lo harus cerita-cerita sama gue soal hal kayak gini, Dit. Banyak yang harus gue persiapkan tahu. Berarti gue berangkat-pulang kantor harus sendiri, dong. Terus gue nggak bisa keseringan main ke rumah lo, nanti ada yang cemburu. Terus gue nggak bisa ngajak lo nemenin gue belanja, ‘kan lo pasti bakal nemenin dia duluan.” balasku tanpa henti, sengaja membuat Adit kesal.

“Lebay, woy! Santai aja sih, Din. Belum jadian ini. Lagian kalaupun gue jadian lo bakal tetep bisa melakukan itu semua. Lo bisa tetep bebas gangguin gue, deh. Gue rela.” jawab Adit sambil menempelkan tangannya ke dada seolah-olah pasrah dengan keadaannya yang menjadi sahabatku.

Aku tertawa melihat Adit berkata seperti itu. Kalau diingat-ingat, situasi ini cukup berbeda dibanding dulu. Ketika Adit mempunyai pasangan, aku pun juga sedang memiliki pasangan. Jadi, bisa dibilang saat itu kami sama-sama sibuk dengan pasangan masing-masing. Namun sekarang, aku sama sekali tidak punya lelaki yang sedang dekat denganku selain Adit.

Dan sejujurnya aku merasa senang jika Adit akhirnya menemukan wanita yang ia sukai setelah bertahun-tahun ‘vakum’. Namun, ada sedikit kesedihan yang terasa di hatiku. Jika Adit memiliki pasangan, itu artinya aku harus menjauh sedikit demi sedikit dari Adit. Apakah aku siap?

***

To be continued

Baca cerita selanjutnya:

Teman Tapi Sayang #2 – Perasaan Sesungguhnya

Teman Tapi Sayang #3 – Pengakuan Linda

Image: Unsplash, Pinterest

AM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *