X

Dari Efikasi Hingga Cara Kerja, Ini Fakta Vaksin Sinovac yang Wajib Kamu Ketahui!

Proses vaksinasi nasional dengan vaksin Sinovac resmi dimulai. Yuk, ketahui dulu fakta-faktanya!

Pada hari Rabu, 13 Januari 2021 kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi orang pertama di Indonesia yang menerima suntikan vaksin Covid-19, yakni vaksin Sinovac. Vaksin asal RRT ini akan menjadi salah satu dari tujuh jenis vaksin Covid-19 yang akan didistribusikan di Indonesia. 

Dengan ini, proses vaksinasi nasional resmi sudah resmi dimulai dan vaksin Sinovac mulai didistribusikan. Sebelumnya, vaksin Sinovac juga telah mendapatkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tidak hanya itu, vaksin ini juga ditetapkan halal dan suci oleh MUI beberapa waktu lalu. 

Nah, Sobat Shopee, yuk, simak dulu fakta-fakta dan cara kerja vaksin Sinovac di bawah ini!

 

1. Efikasi

Vaksin Sinovac

Data hasil uji klinis vaksin Sinovac di Bandung menunjukkan bahwa efikasi vaksin Sinovac mencapai 65,3 persen. Bila dibandingkan, efikasi vaksin Sinovac di negara-negara yang menjalankan uji klinis cukup berbeda. Turki menyatakan bahwa efikasi vaksin Sinovac berdasarkan hasil uji klinis mencapai 91,25 persen. Sementara itu, efikasi di Brasil, yang awalnya mencapai 78 persen turun menjadi 50,4 persen.

Perbedaan ini, menurut epidemiolog dr Jarir At Thobari seperti yang dikutip oleh Detik.com, dapat terjadi karena banyak faktor. Salah satu faktor utama adalah perbedaan kondisi epidemiologi di tiap negara, perilaku masyarakat, juga karakteristik kelompok yang diikutsertakan dalam uji klinis.

Lebih lanjut, dr Jarir At Thobari juga menjabarkan bahwa uji klinis di Turki diikuti 20% tenaga kesehatan dan 80% masyarakat dengan risiko tinggi. Di Brasil, uji klinis diikuti oleh 100% tenaga kesehatan. Sementara itu, uji klinis yang dilakukan di Kota Bandung diikuti oleh masyarakat umum.

Walau begitu, penting untuk Sobat Shopee ketahui bahwa nilai efikasi vaksin Sinovac sudah lebih tinggi dari persyaratan yang ditetapkan oleh WHO, yakni 50 persen. 

Menurut situs BBC.com, nilai efikasi sendiri didapatkan dengan melihat berapa banyak yang terjangkit virus Covid-19 dalam kelompok yang diberi vaksin, dibandingkan dengan berapa banyak yang terjangkit dalam kelompok yang diberikan dummy vaccine, atau plasebo, atau tidak divaksinasi. 

 

2. Efek samping dan reaksi

Nilai efikasi vaksin Sinovac sebesar 65,3 persen memang dapat menimbulkan keraguan, terutama bila dibandingkan dengan vaksin Pfizer atau vaksin Moderna yang mencapai 95%. 

Namun, perlu diketahui bahwa keunggulan vaksin Sinovac dibanding kedua vaksin tersebut terletak pada efek samping dan reaksi yang ditimbulkan. Efek samping berat vaksin Sinovac hanya muncul pada 0.1 – 1 persen relawan, sedangkan Pfizer sebesar 1,5 persen dan Moderna sebesar 4,1 persen.

Ada beberapa reaksi yang mungkin akan muncul setelah vaksin disuntikkan, misalnya nyeri, kemerahan, bengkak pada area suntikan. Reaksi lain juga mencakup demam, nyeri otot dan pegal-pegal, kelelahan, hingga sakit kepala.

 

3. Cara Kerja

Sumber: pikiran-rakyat.com

Menurut New York Times, ada 6 cara kerja vaksin Sinovac. Pertama, peneliti menggunakan sampel virus Corona sebagai dasar pembuatan vaksin. 

Virus tersebut kemudian dinonaktifkan menggunakan bahan kimia bernama beta-propiolakton. Jika sudah tidak aktif, virus Corona tidak dapat lagi bereplikasi, namun protein mereka tetap utuh.

Selanjutnya, peneliti menarik virus-virus yang sudah tidak aktif dan mencampurnya dengan sejumlah kecil adjuvan, yaitu senyawa berbasis aluminum. Adjuvan berguna untuk merangsang sistem kekebalan tubuh agar dapat meningkatkan respon tubuh terhadap vaksin.

Karena virus dalam vaksin Sinovac telah mati, saat disuntikkan ke tubuh, virus-virus tersebut akan dibasmi oleh sistem kekebalan tubuh. Proses ini kemudian mendorong tubuh untuk memproduksi antibodi untuk melawan virus Corona. Setelah divaksinasi, maka sistem kekebalan tubuh dapat merespon infeksi virus Corona hidup dan juga mengingat informasi tentang virus Corona selama bertahun-tahun. 

 

4. Kelompok eksklusi

Perlu diketahui, ada beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak dapat menerima vaksin Covid-19, yakni:

  1. Apabila berdasarkan pengukuran tekanan darah didapatkan hasil 140/90 atau lebih.
  2. Pernah terkonfirmasi virus Covid-19, karena diyakini telah memiliki antibodi untuk virus tersebut.
  3. Sedang hamil, atau menyusui, atau mengalami gejala infeksi saluran pernapasan.
  4. Memiliki anggota keluarga yang kontak erat, suspek, atau sedang dalam perawatan Covid-19.
  5. Memiliki riwayat alergi berat atau gejala sesak napas, bengkak, dan kemerahan setelah divaksinasi Covid-19 sebelumnya (Untuk dosis vaksinasi kedua).
  6. Sedang menjalani terapi aktif jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah.
  7. Mengidap penyakit jantung (gagal jantung atau koroner).
  8. Mengidap penyakit autoimun.
  9. Mengidap penyakit ginjal.
  10. Mengidap penyakit reumatik autoimun atau rhematoid arthritis.
  11. Mengidap penyakit saluran pencernaan kronis.
  12. Menderita penyakit hipertiroid atau hipertiroid karena autoimun.
  13. Menderita kanker, kelainan darah, kelainan atau defisiensi imun, dan penerima produk darah/transfusi.
  14. Menderita HIV dengan angka CD4 kurang dari 200 atau tidak diketahui.

 

5. Penundaan vaksinasi

Sumber: japantimes.co.jp

Bila Sobat Shopee tidak memiliki kondisi-kondisi di atas, pemberian vaksin Sinovac tetap bisa mengalami penundaan. Penundaan ini bisa terjadi jika saat akan menerima vaksin, calon penerima sedang demam, memiliki penyakit paru seperti asma, PPOK, dan TBC.

 

Nah, Sobat Shopee, perlu diketahui juga walau sudah menerima vaksin Corona, tidak berarti kita bisa lengah. Protokol kesehatan seperti penggunaan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, serta menjaga jarak tetap perlu diterapkan sebaik mungkin. Yuk, tetap jalankan protokol kesehatan dan ikut vaksinasi untuk mengurangi penularan.

Featured
Tags: vaksin sinovacvirus corona
2 COMMENTS
Leave a Comment