X

EMPAT #4 – Meninggalkan Semua

“Bagaimana jika hari terakhir hidupmu adalah sekaligus hari pernikahanmu?”

Sinopsis:

Angka 4 seperti selalu menemani hidupku. Aku dan Dimas telah berpacaran selama 4 tahun. Dalam 4 bulan lagi, pernikahan kami akan digelar. Namun, kabar buruk menghampiriku. Hidupku akan berakhir dalam 4 bulan akibat kanker otak.

Aku yang putus asa, memutuskan melakukan segala cara untuk membuat Dimas membenciku hingga membatalkan pernikahan kami. Kenapa? Aku tidak ingin ia merasa terpuruk dengan kepergianku. Sounds cheesy? Iya, tapi aku bersungguh-sungguh.

Akankah rencanaku berhasil?

Ketinggalan baca cerita sebelumnya? Sobat Shopee bisa membacanya di sini:

EMPAT #1 – Berita Buruk

EMPAT #2 – Rencana Dimulai

EMPAT #3 – Rahasia yang Terbongkar

***

Sorot mata Dimas kali ini adalah sorot mata yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Well, maklum saja, ia kini sedang melihat sahabatnya bersama tunangannya—yang sudah beberapa bulan ini menghindar darinya—melakukan aksi tidak senonoh. Walaupun tentu saja semua ini adalah salah paham. Meski situasi ini jauh berbeda dari skenario yang aku rancang, aku tetap harus memanfaatkan kesempatan ini. Kesempatan membuat Dimas terluka dan membatalkan pernikahan kami.

“Jadi karena ini kamu menjauh dari aku, Deb? Karena Reza?” tanya Dimas memecah keheningan di antara kami bertiga. Keheningan yang membuat jantungku berdegup tidak keruan.

“Dan lo bukannya udah balik ke Sydney sejak beberapa minggu lalu, Za? Kok lo masih di sini? Bahkan gue nggak tahu sama sekali?” tanya Dimas yang kini menatap tajam ke Reza.

“Hmm…Dim, nggak gitu. Gue lagi…hmm…itu…” jawab Reza dengan gelagapan sambil berkali-kali melirik ke arahku, meminta pertolongan.

“Susah ya, jelasinnya? Nggak perlu panjang-panjang, to the point aja. Jadi ada sesuatu di antara kalian?”

“Dimas, kita ngomong di luar aja.” kataku sambil beranjak dari kasur dan menarik tangan Dimas ke luar. Meninggalkan Reza sendirian di kamar. Selagi aku menarik lengannya, Dimas tidak berhenti menatap tajam ke Reza sambil menahan emosinya.

Sesampainya di ruang tengah rumahku, Dimas melepas pegangan tanganku di lengannya dengan paksa, lalu meremas pelipisnya. “Kamu kenapa sih, Deb? Kenapa diam aja? Kenapa belakangan ini kamu susah dihubungin? Kenapa aku malah menemukan kamu sama Reza di kamar kamu? Jadi bener, ada sesuatu antara kamu dan Reza?” tanya Dimas yang kini sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.

“Maafin aku, Dimas.” kataku sambil menatap ke lantai. Rasanya aku tak akan sanggup jika menatap kedua matanya. Sudah lama aku tidak melihatnya dan saat ini badanku benar-benar lemah. Aku sangat ingin memeluknya dan menceritakan semuanya. Namun, aku harus menahan itu semua demi kebaikan Dimas.

“‘Maaf’? Kenapa kamu minta maaf? Kamu harusnya ngebantah perkataanku, Deb?!!” teriak Dimas sambil memegang kedua sisi pundakku. Aku pun mengangkat kepala dan melihat kedua matanya. Sama sepertiku, Dimas juga memancarkan kesedihan dan kekecewaan yang sama. Tidak, bahkan lebih.

Aku pun tak bisa lagi membendung air mataku. Untuk beberapa saat kami hanya saling menatap dengan posisi yang sama. Hingga akhirnya, Dimas melepas tangannya dari pundakku dan menatap dingin ke arahku. Seperti menyadari sesuatu.

“Kamu… nggak yakin dengan pernikahan kita?”

“Kalau memang iya, maka semuanya masuk akal. Alasan kenapa kamu menghindari aku dan mengabaikan persiapan pernikahan. Lalu pertemuan kamu dengan Reza. Itu semua… karena kamu nggak yakin sama aku?” tambah Dimas sebelum aku sempat menjawab pertanyaan sebelumnya.

“Aku… aku bener-bener minta maaf, Dim. Kamu… terlalu sibuk… sama kerjaan kamu. Aku… bingung… gimana nantinya kalau kita… udah menikah…jadi aku…” jawabku terbata-bata mencoba mencari alasan yang cukup masuk akal, walaupun menurutku semuanya udah nggak ada yang masuk akal lagi.

Dengusan kecil pun terdengar dari mulut Dimas. Aku kembali menatapnya dan terlihat Dimas menyeringai sambil menatapku. “4 tahun kita sia-sia ya jadinya?” tambahnya.

Dimas lalu menarik tanganku dan memelukku erat. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, “Kalau sudah ada keraguan dan kehilangan rasa kepercayaan, rasanya hubungan kita akan semakin sulit nantinya, Deb. Dan setelah kejadian ini, aku pun mulai ragu sama kamu. Mungkin… sebaiknya kita sampai di sini?”

Dan Dimas pun mengatakan kalimat itu. Kalimat yang paling menyakitkan namun juga membuatku lega. Perlahan Dimas melepaskan pelukannya. Tatapannya kini terasa lebih menyedihkan. “Kamu nggak usah bingung soal keluargaku. Biar aku yang jelasin. Sekarang, aku pamit ya. Tapi aku nggak mau pamitan sama Reza. Nanti pokoknya suruh dia keluar dari kamar kamu.” kata Dimas sambil bercanda. Aku tahu dia sengaja membuat suasana hatiku lebih baik lagi. Ya ampun, Dimas, seandainya kamu tahu yang sebenarnya.

Dimas pun pergi meninggalkanku tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Mungkin ini terakhir kalinya aku akan melihatnya.

***

“Ini sudah yang kelima kalinya, Dok.” kata Mama kepada Dokter Bram yang kini telah datang ke kamarku untuk kontrol rutinnya.

Ya, aku baru saja muntah untuk yang kelima kalinya sejak pagi tadi. Setelah urusanku dengan Dimas sudah selesai—atau lebih tepatnya kuanggap begitu karena masih ada beberapa keluarga Dimas yang menghubungiku untuk menanyakan alasan sebenarnya—aku memutuskan bersedia menjalani berbagai pengobatan di rumah sakit, termasuk kemoterapi.

Kurang lebih sudah tiga bulan aku di sini. Kondisiku semakin memburuk. Badanku menjadi kurus kering, rambutku rontok, dan wajahku semakin kusam seperti tidak hidup lagi. Aku benar-benar bisa merasakan kematian semakin dekat.

Selain kedua orang tuaku, Reza dan beberapa teman kantorku rutin datang menjenguk. Ya, aku memberitahu beberapa temanku karena aku pun harus mengambil cuti panjang untuk menjalani pengobatan ini.

Sementara Dimas, kudengar dari Reza ia masih belum tahu tentang kondisiku saat ini. Reza menepati janjinya untuk tidak mengatakan ini pada Dimas. Walaupun memang sudah tidak banyak kesempatan lagi bagi Reza dan Dimas untuk mengobrol. Hubungan mereka berdua memang kurang baik. Tentu akulah pemicunya.

Sementara hari-hariku di rumah sakit sangatlah membosankan. Yang aku rasakan hanyalah rasa sakit. Aku sering membayangkan jika Dimas berada di sini, menemaniku. Tapi sudahlah, ini adalah salah satu resiko dari keputusanku. Semoga saja Dimas segera menemukan yang lain…

***

“Dok! Dokter!!!” jeritan Mama memekakkan koridor rumah sakit yang sunyi di tengah malam ini. Mendengar itu, para suster segera berlari menuju kamarku. Mereka pun langsung terlihat sibuk. Beberapa suster terburu-buru memanggil Dokter Bram, sementara yang lainnya mengecek kondisiku sambil memainkan berbagai alat rumah sakit di sekelilingku yang entah untuk apa saja fungsinya.

Dokter Bram dan beberapa asistennya datang dengan tergesa-gesa dan segera memerintahkan kedua orang tuaku untuk menunggu di luar kamar pasien. Pintu kamarku pun ditutup. Sementara Papa dan Mama saling memeluk dan berdoa menunggu keajaiban datang.

Beberapa jam kemudian, Dokter Bram keluar dari kamarku dan menemui orang tuaku. Ia mengatakan bahwa aku telah berhasil melewati masa kritis. Namun, bukan berarti kondisiku baik-baik saja. Dokter Bram justru meminta mereka untuk menyiapkan diri akan hal terburuk yang tak lama lagi akan terjadi. Mendengar itu, Mama tidak bisa lagi menahan tangisnya. Sementara Papa hanya bisa memeluknya dan mencoba lebih tegar.

***

Hari ini akhirnya datang juga. Ya, aku bisa merasakannya. Sebentar lagi semuanya akan selesai. Penderitaan dan rasa sakit ini akan hilang. Meski begitu, aku mencoba untuk terlihat baik-baik saja demi Papa dan Mama. Aku ingin mereka melihatku pergi dengan perasaan tenang.

Mereka pun kemudian pergi sebentar untuk membawa pakaian ganti yang baru. Seharusnya tidak perlu serepot itu sih, Ma. Tapi tak apa-apa karena aku memang membutuhkan waktu untuk sendiri. Kini aku hanya bisa menatap langit dan menghitung waktu kepergianku. Aku melirik ke kalender dan menyadari bahwa seharusnya minggu depan adalah hari pernikahanku. Sungguh menyedihkan sekali.

Tok tok tok…

Suara ketukan pintu pun terdengar. Siapa? Seharusnya tidak ada lagi yang datang selain Mama dan Papa. Aku bisa melihat siluet seseorang dari kaca pintu kamar pasien yang buram dan mempersilakan orang itu masuk, mungkin itu Reza.

Pintu pun terbuka dan aku bisa langsung mencium bau parfum yang sangat kukenal. Lelaki yang selalu ada di pikiran dan mimpiku kini berdiri di depanku. Iya, Dimas. Mantan pacar dan mantan tunangan yang beberapa bulan lalu dengan susah payah berusaha kuhapus dari hidupku, kini berada di sini.

“Deb… aku boleh masuk?” kata Dimas yang masih berdiri canggung di pintu. Aku yang hanya bisa bengong, menganggukkan kepalaku perlahan. Dimas pun berjalan ke samping tempat tidurku.

Banyak pertanyaan yang terlintas di pikiranku. Kenapa Dimas bisa di sini? Seberapa banyak yang ia tahu tentang kondisiku? Apakah Reza yang memberitahunya?

“Aku tahu semuanya dari Reza.” kata Dimas tiba-tiba seolah mendengar semua pertanyaanku tadi.

You’re so silly, Deb. Kalau kamu pikir aku akan jauh lebih baik tanpa mengetahui semuanya.” tambah Dimas yang dengan perlahan kini mencoba menggenggam tanganku.

“Aku mau menghajar Reza nanti. Tapi aku sekarang terlalu lemah untuk melakukan itu. Yah, usaha aku sia-sia dong, ya.” jawabku mencoba bercanda.

Dimas pun tersenyum, namun kesedihan masih nampak jelas di wajahnya. “Setelah tahu semuanya, aku langsung mau ketemu kamu. Tapi Reza nahan aku. Menurut dia, kamu akan lebih tenang jika aku nggak tahu. Makanya aku diam-diam ke sini untuk merhatiin kamu dari jauh.”

“Maafin aku, Dim. Udah nutupin semuanya. Aku cuma nggak mau kamu sedih. Aku bodoh banget, ya?” jawabku sambil tertawa, mencoba terlihat kuat. Namun, air mata ini tidak bisa dibendung lagi. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Menangis karena Dimas yang masih tidak berubah. Menangis karena aku menyangsikan hatinya. Dan menangis karena kebodohanku.

Dimas langsung memelukku dengan erat. Tindakan yang kurang tepat karena hal itu membuatku menangis semakin keras sedangkan badanku sudah sangat lemah.

“Kamu mau ‘kan pakai cincin pertunangan kita lagi? Seminggu lagi kita akan menikah lho, Deb.” kata Dimas sambil memegang cincin pertunangan kami dan memakaikannya di jari manisku.

“Tapi Dim, bentar lagi aku akan…”

“Shhh… bukan kamu yang menentukan ‘kan, Deb. Sekarang kita nikmati aja saat-saat ini.” kata Dimas memotong perkataanku.

Aku yakin Dimas sebenarnya tahu waktuku tinggal sebentar lagi. Namun, ia menyembunyikan kesedihannya agar aku bisa pergi dengan tenang. Karena itulah yang aku mau. Pergi dengan tenang tanpa membuat orang yang aku sayangi merasa sedih.

***

4 bulan kemudian…

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Mama dan Papa menaburkan bunga mawar favoritku di atas makam. Mereka menceritakan semua kisah lucu yang mereka alami beberapa hari belakangan ini. Senang rasanya bisa melihat mereka tertawa renyah seperti ini. Setelah beberapa lama, mereka pun pamit pulang dan berjanji akan kembali mengunjungiku lagi dalam waktu dekat.

Ketika berbalik pulang, mereka melihat dua sosok lelaki tampan berjalan menuju ke makamku. Sebelum pergi, Mama sempat berbisik geli ke batu nisan bertuliskan namaku, “Deb, kamu jangan kesel, ya. Mama yakin pasti bakal berisik, nih. Mereka dateng lagi, soalnya.”

Ya, Dimas dan Reza datang membawa semua hal yang aku suka. Cokelat, boneka, bunga, bahkan kue. Entah siapa yang akan memakan semua itu. Semoga setelah ini mereka memberinya ke penjaga makam saja.

Dimas dan Reza pun berpelukan dengan kedua orang tuaku. Dari jauh saja aku bisa mendengar keriuhan mereka. Haaah, tidur tenangku hari ini nampaknya harus terusik oleh tawa mereka. 🙂

***

TAMAT

Image: Unsplash

AM